Harus Ada yang Bertanggung Jawab

Selasa, 29 Nov 2011 - 00:00 WIB
Runtuhnya Jembatan Tenggarong di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur sangat menggelisahkan dan wajar menimbulkan kemarahan publik.

Jembatan yang mulai dibangun tahun 1995 dan selesai tahun 2001 ini ternyata hanya berumur 10 tahun. Setiap bangunan pasti dibuat untuk memiliki kemampuan melebihi target kapasitas pemakaian, jadi seharusnya alasan kelebihan beban sudah dicoret. Jika ada yang menjadikan itu alasan mungkin pihak itu sangat sadar bahwa sebenarnya kualitas jembatan di bawah dari yang direncanakan sehingga ketika menerima beban yang seharusnya sanggup ditopang oleh jembatan sesuai rencana ambruk.

Sudah jelas bahwa ada fraud di sini. Mulai dari konsultan perencana, kontraktor hingga konsultan pengawas serta semua ahli yang terlibat harus diperiksa. Mekanisme tender serta pihakpihak yang terlibat di dalamnya juga harus diperiksa. Karena sudah menjadi rahasia umum bahwa di tender inilah umumnya terjadi kebocoran besar-besaran yang akhirnya memaksa kontraktor melakukan specdown yang mengorbankan kualitas. Bahkan Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto mengatakan bahwa kejadian jembatan berumur 10 tahun runtuh sangat langka. Dia bahkan mengatakan bahwa mustahil jembatan dengan konstruksi baja berusia 10 tahun.

Sayangnya sang menteri tidak mengatakan berapa target usia jembatan yang direncanakan. Umumnya jembatan direncanakan bisa dipakai 50–100 tahun. Harusnya bangsa ini malu jembatan yang dibangun kontraktor BUMN PT Utama Karya yang dijuluki Golden Gate Indonesia itu berumur sebegitu pendek. Jauh sekali dibandingkan dengan Golden Gate asli yang membentang di semenanjung San Francisco, Amerika Serikat. Jembatan itu dibangun pada 1933 dan selesai pada 1937 yang berarti hingga saat ini jembatan tersebut sudah berumur 74 tahun. Sudah barang tentu teknologi tahun 1995 harusnya jauh lebih canggih dari teknologi tahun 1933.

Mencari sumber masalah itu memang tidak mudah, tapi sangat mungkin dilakukan. Bahkan untuk hal sulit seperti kecelakaan pesawat saja khalayak banyak sudah diberi tontonan bahwa hal itu bisa disurai seperi ditunjukkan serial Aircrash Investigation milik National Geographic Channel serta Aircrash Confidential milik Discovery Channel. Kesalahan-kesalahan kecil dari masa pembuatan hingga pemakaian bisa terdeteksi. Apalagi jembatan ini masih bisa dilihat langsung strukturnya. Ahli dalam negeri maupun internasional tentu akan menjadikan kasus ini sebagai studi mereka, jadi sudah selayaknya pemerintah tidak mengelak sana-sini bahwa ini sulit dilakukan.

Kalau masalah waktu jelas semua paham bahwa untuk menganalisisnya butuh waktu lama. Yang penting adalah publik merasa diyakinkan bahwa kasus ini memang dibuka benar-benar dan dicari yang bertanggung jawab. Jika pemerintah mengelak, itu malah akan membuat publik merasa ada yang ditutup-tutupi dalam kasus ini.

Dengan tendensi korupsi dan kemuakan masyarakat akan korupsi, menuntaskan masalah ini dan menarik orang yang bertanggung jawab akan menjadi pencapaian besar bagi pemerintahan Presiden SBY. Penuntasan akan menjadi pernyataan sangat jelas dari SBYbahwapadadasarnya pemerintahan saat ini memang ingin memberantas korupsi, bukan seperti yang ditudingkan banyak orang bahwa pemerintah kian lembek.

Apalagi jembatan tersebut runtuh di hari resepsi pernikahan Edhie Baskoro Yudhoyono dan Siti Ruby Aliya Rajasa (Ibas-Aliya) yang tentu menjadi hal yang sangat mengganggu kekhidmatan SBY dan Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa. Bahkan SBY harus mengadakan rapat mendadak di tengah resepsi di Jakarta Convention Centre (JCC) dengan beberapa menterinya untuk menganggapi situasi.