Daerah Kabar baik, 2050 lapisan ozon bumi pulih

Selasa, 22 Nov 2011 - 00:00 WIB
Sekretariat Ozon Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memprediksi lapisan ozon dunia yang selama ini mengalami kebocoran pada tahun 2050 mendatang sudah bisa tertutup kembali. Kondisi tersebut disebabkan berbagai upaya serius dari sejumlah negara, termasuk Indonesia dalam mengurangi emisi gas buang.

"Para ilmuwan telah melakukan pengukuran secara berkala terhadap lapisan ozon yang sebelumnya banyak bolong, kini sudah mulai berkurang," kata Sekretaris Eksekutif dari Sekretariat Ozon PBB Marco Gonzales di Nusa Dua, Bali, Senin (21/11/2011).

Dari pengukuran lapisan terluar atau stratosfer bahan-bahan seperti chloro fluoro carbon (CFC) dan hydro chlorofluoro carbon (HFC) juga sudah mulai menurun. Demikian juga di Antartika atau di Kutub Selatan dan Kutuh Utara, konsenterasi bahan-bahan perusak ozon sudah semakin mengecil .

Adapun indikator terjadinya penutupan lapisan ozon bisa dilihat sejak akhir tahun 2007 atau awal 2008 di Indonesia misalnya, ada sekira 9.898 matrik ton bahan freon atau CFC yang sudah di-resource kembali. Banyak negara sudah memiliki kesadaran akan bahayanya bagi kelangsungan hidup manusia, jika lapisan ozon terus menipis dan banyak kebocoran akibat penggunaan bahan seperti HCFC dan CFC.

Menurut Marco, saat ini mulai ada kesadaran kolektif negara-negara untuk perlunya pembatasan penggunaan bahan-bahan yang dapat memicu terjadinya kebocoran lapisan ozon.

Sebab itu, pertemuan 9th Conference of The Parties (COP) to Vienna Convention for The Protection of Ozone Layer dan 23rd Meeting of The Parties (MOP) to The Montreal Protocol di Bali, dari 21-25 November 2011 ini, diharapkan mempercepat kerja sama global dalam perlindungan ozon.

Pada agenda kali ini, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup ditunjuk menjadi tuan rumah. Acara yang dibuka Menteri Lingkungan Hidup Balthasar Kabuaya ini dihadiri 500 delegasi dari 150 negara, dan beberapa organisasi internasional serta masyarakat sipil, diadakan di Bali Nusa Dua Convention Centre.

Balthasar mengungkapkan konferensi ini penting untuk mendapatkan kesepakatan dari seluruh negara untuk memperbaiki perubahan ozon ke depan. Selain itu, dari pertemuan ini bisa memberikan warning bagi masyarakat agar sadar akan pentingnya ozon bagi kelangsungan hidup manusia.
 
"Konferensi ini dalam rangka meningkatkan kualitas kehidupan manusia. Karena kita bergantung pada ozon," tutur Balthasar dalam jumpa pers di Bali Nusa Dua Concention Center, Senin (20/11/2011).

Menteri LH juga menyoroti tantangan ke depan bagi Indonesia khususnya untuk memilih industri alternatif ramah lingkungan. Indonesia juga memastikan industrinya akan tetap kompetitif dalam merawat lingkungan.

Indonesia sebagai tuan rumah dalam konferensi ini akan menjembatani kesepakatan antarnegara agar dapat bersinergi dan kolaborasi terkait perlindungan lapisan ozon dan mitigasi perubahan iklim. Tak cuma itu, dalam pertemuan ini juga akan membahas bantuan dana multilateral Protokol Montreal 2012-2014.

Dana ini ditujukan untuk membantu negara-negara berkembang dalam mengurangi dampak ozon bagi kelangsungan hidup manusia. Hingga saat ini sudah dicairkan sekira USD2,5 miliar untuk membantu negara-negara berkembang.

Sekadar diketahui, fenomena penipisan lapisan ozon stratosfer oleh bahan kimia chlorofluoromethane (atau biasa disebut sebagai chlorofluorocarbon – CFC) pertama kali disampaikan oleh dua orang ilmuwan Amerika, Rowland dan Molina, di Jurnal Nature pada tahun 1974. Sejak saat itu perdebatan dan wacana pengaturan penggunaan CFC terus menggelinding, tidak hanya di Amerika namun juga di berbagai negara.

Berbagai kajian ilmiah tentang penipisan lapisan ozon akibat CFC kemudian dilakukan oleh para ilmuwan. Puncak dari berbagai kajian tersebut adalah temuan tim ekspedisi ilmuwan Inggris yang dipimpin oleh Joe Farman tentang sangat rendahnya konsentrasi ozon stratosfer di atas Benua Antartika pada akhir musim dingin dan awal musim semi.

Temuan tersebut dipublikasikan di Jurnal Nature pada tahun 1985. Istilah lubang ozon (ozone hole) mulai digunakan untuk menggambarkan sangat rendahnya konsentrasi ozon di suatu daerah (kurang dari 220 Dobson Unit). Lubang ozon di atas Kutub Selatan pada tahun 2006 membuktikan bahwa kerusakan lubang ozon masih terus berlanjut sampai saat ini yang luasnya sempat mencapai 29 juta km2.

Penipisan lapisan ozon merupakan salah satu masalah penting yang harus segera ditanggulangi karena setiap penipisan lapisan ozon sebesar 10% akan menyebabkan kenaikan intensitas sinar Ultra Violet (UV) B sebesar 20%. Hasil penelitian para ahli menunjukkan bahwa tingginya intensitas UV-B bisa menimbulkan katarak mata, kanker kulit, penurunan kekebalan tubuh, memusnahkan plankton, dan menghambat pertumbuhan tanaman.

Selain itu, menyebabkan pemanasan global dan perubahan iklim. Pada tahun 2007, IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) melaporkan bahwa konsentrasi CO2 di atmosfer telah mencapai 379 ppm, melebihi variasi alaminya antara 280 – 300 ppm yang telah bertahan selama kurun waktu 650.000 tahun terakhir.

Kenaikan konsentrasi Gas Rumah Kaca (GRK) tersebut telah menyebabkan kenaikan temperatur permukaan bumi sebesar 0,76oC sejak masa sebelum revolusi industri. Sebelas di antara dua belas tahun terpanas sejak tahun 1850 terjadi pada kurun waktu antara 1995–2006.

Menyikapi kondisi tersebut, komunitas internasional segara bertindak dan menyepakati Konvensi Wina pada tahun 1985. Langkah lebih lanjut adalah melalui penetapan Protokol Montreal pada tahun 1987 yang mengatur lebih rinci tentang penghapusan Bahan Perusak Ozon (BPO).

Saat ini, protokol tersebut sudah diratifikasi oleh 193 negara, dan menjadi salah satu contoh keberhasilan perjanjian internasional dalam melindungi lingkungan di bumi.