KRL mogok lagi, cermin buruknya pelayanan

Kamis, 17 Nov 2011 - 00:00 WIB
Ganguan terhadap transportasi massal, kereta api kerap terjadi. Gangguan itu kembali terjadi, dimana kereta ekonomi jurusan Bogor-Kota mengalami mogok di stasiun Lenteng Agung.

Akibatnya, rangkaian kereta yang lainnya ikut terganggu, karena pihak pengelola PT. Kereta Api Indonesia (KAI) terpaksa menggunakan satu jalur untuk sementara. Sehingga kereta jurusan Bogor-Jakarta lainnya terpaksa harus melalui jalur yang digunakan tersebut secara bergantian.

"Perhatian kepada para penumpang Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line kereta belum dapat dijalankan karena ada kereta mogok di Lenteng Agung," ujar petugas distasiun Depok Baru ketika memberikan informasi kepada para penumpang melalui alat pengeras suara, Jakarta, Rabu (16/11/2011).
 
Alhasil, rangkaian kereta yang akan melintas menumpuk mulai stasiun Pasar Minggu hingga Stasiun Depok. Demi menghilangkan rasa jenuh, para penumpang keluar dari gerbong sambil menunggu diberangkatkan lebih lanjut.

Lamanya, keberangkatan rangkaian kereta menyebabkan sebagian penumpang kereta beralih ke Angkutan Kota (Angkot) dan ojek sepeda motor. Pasalnya mereka yang rata-rata pekerja, tidak ingin makin lama terlambat sampai kantor.

"Saya ke terminal untuk cari angkot, kalau enggak bisa telat," ujar  Taufik salah satu penumpang kereta api di stasiun Depok lama yang hendak menuju Kalibata.

Keluhan sering terjadinya gangguan kereta ekonomi ini, sebelumnya disampaikan oleh KRL mania. Bahkan, keluhan ini pernah disampaikan kepada Presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY) melalu surat tertulis.

Dalam, surat itu pemerintah diminta untuk memperbaiki pelayanan angkutan masal kereta api. Keluhan ini juga disampaikan dalam kesempatan bertemu dengan staf khusus Presiden, ndi Arif beberapa waktu lalu.

Buruknya standar pelayanan tersebut di antaranya menyangkut fasilitas kesehatan di stasiun, lampu penerangan kereta, dan tidak adanya informasi melalui alat pengeras suara mengenai stasiun yang akan disinggahi.

Selain itu juga menyangkut, fasilitas khusus bagi ibu hamil dan anak di bawah lima tahun, fasilitas kesehatan di dalam kereta, nama dan nomor urut kereta serta informasi gangguan perjalanan kereta api.

"Menurut Pak Andi ketujuh tuntutan tersebut sangat realistis untuk diterapkan dan bisa digunakan sebagai tolak ukur perubahan," kata Agam selaku perwakilan KRL mania, menirukan ucapan Andi.