Wabah hepatitis di Depok terkontrol

Jumat, 11 Nov 2011 - 00:00 WIB
Kementerian Kesehatan menyatakan wabah hepatitis yang menyerang pelajar di Depok sudah tertangani, sehingga tidak menyebar luas dan memakan korban lainnhya.

"Data yang ada sampai sore ini tentang hepatitis A di Depok sampai menunjukkan angkanya sudah mulai menurun," ungkap Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama kepada Sindonews, Kamis (10/11/2011).

Dia menjelaskan indikasinya antara lain selama dua hari terakhir (tanggal 8-9) hanya ditemukan satu tambahan kasus baru. Sejak awal kejadian sampai hari ini ada total 90 kasus, terdiri 89 siswa  dan satu guru.

"Data laboratorium yang ada menunjukkan serum IgM HAV positif. - Saat ini masih dirawat 4 orang, keadaan terkontrol. Kasus yang lain saat ini sudah membaik dalam masa pemulihan dengan  pengawasan petugas Puskesmas dan petugas kesehatan setempat," terang dia.

Tjandra mengatakan, untuk mengetahui sumber penularan maka sampel air, makanan, rectal swab pembuat makanan sudah diambil dan saat ini sedang diperiksa di laboratorium IPB," imbuhnya. Upaya lain yang sudah dilakukan adalah perawatan kasus, penyuluhan hidup bersih dan sehat, surveilans intensif, dan  desinfeksi.

Berikut penjelasan tentang hepatitis A menurut Tjandra Yoga Aditama:

1. Etiologi.
   Virus Hepatitis A(HAV), termasuk famili picornaviridae genus hepatovirus yang merupakan RNA virus positif.

2. Cara penularan.
    Melalui fekal-oral, virus ditemukan pada tinja & mencapai puncak 1-2 minggu sebelum timbulnya gejala, dan berkurang secara cepat setelah timbulnya gejala disfungsi hati, timbul bersamaan setelah munculnya sirkulasi antibodi HAV dalam darah.
KLB terjadi denga pola common source, umumnya terjadi pada pencemaran air minum, makanan yang tidak dimasak, makanan yang tercemar, sanitasi yang buruk, hygiene rendah.

3. Tanda dan gejala.
    Demam, malaise (lemah,lesu), anoreksia dan gangguan abdominal serta ikterus.

4. Masa inkubasi.
    Masa inkubasi 15-50 hari, rata-rata 28-30 hari.

5. Masa penularan.
    Infektifitas maksimum terjadi pada hari terakhir dari separuh masa inkubasi dan berlanjut setelah timbulnya ikterus (puncak aktivitas aminotransferase pada kasus an-ikterik). Sebagian besar kasus kemungkinan tidak menular pada minggu pertama setelah ikterus. Ekskresi virus melalui tinja paling lama terlaporkan adalah 6 bulan terjadi pada bayi dan anak. Ekskresi kronis pada HAV tidak pernah terlaporkan.

6. Kerentan dan kekebalan.
   Semua orang rentan terhad infeksi. Pada bayi dan anak pra sekolah jarang menunjukkan gejala klinis, hal ini menunjukkan bahwa infeksi ringan dan an-ikterik umum terjadi. Imunitas homologous setelah mengalami infeksi makan dapat berlangsung seumur hidup.

7. Pencegahan.
    a. Promosi kesehatan diberikan kepada masyarakat tentang sanitasi yang baik, kebersihan perorangan meliputi cuci tangan secara benar, pembuangan tinja di jamban yang bersih.
   b. Penyediaan air bersih, sitim pendistribusian air yang baik dan pengelolaan limbah yang benar.

8. Penanganan penderita, kontak dan lingkungan sekitar.
   a. Isolasi bagi yang positif hepatitis A bila diperlukan .
   b. Pengobatan: tidak spesifik, utamanya meningkatkan daya tahan tubuh (istirahat dan  makan bergizi).
   c. Disinfeksi serentak terhad bekas cairan tubuh dari penderita.
   d. Karantina: tidak perlu   
 
9. Penanggulangan wabah.
   a. Laporkan kepada instansi kesehatan setempat.
   b. Lakukan investigasi denga PE apakah penularan terjadi dari orang ke orang atau common source cari populasi yang terpajan, bila ditemukan sumber infeksi segera dimusnahkan (mis kaporisasi pada air yang tercemar).
  c. Lakukan upaya khusus untuk meningkatkan sanitasi lingkungan d kebersihan perorangan untuk mengurangi kontaminasi makanan di air dengan tinja.