Aparat Jangan Krisis Wibawa

Jumat, 11 Nov 2011 - 00:00 WIB
Dua hari ini kita menyaksikan deretan aksi unjuk rasa yang mengganggu ketertiban umum.Di Cawang, Jakarta Timur, 20 mahasiswa melarang masyarakat untuk melewati jalan raya yang menjadi urat nadi kota.

Mereka memblokade jalan, membakar ban, lantas berorasi. Akibatnya, kemacetan hingga belasan kilometer terjadi sejak siang hingga sore, dua hari terakhir di kawasan tersebut.Komentar-komentar pengguna jalan yang dirangkum media menunjukkan, betapa mereka marah dengan aksi yang tidak memperhitungkan kepentingan umum. Mereka marah karena waktu,tenaga,dan biaya terbuang percuma untuk menghadapi macet berjam-jam hanya gara-gara aksi unjuk rasa segelintir mahasiswa.

Dari sisi mahasiswa,barangkali memang,mereka ingin menunjukkan tetap eksis dan peduli dengan isu-isu politik nasional. Wajar jika kemudian mereka menggelar unjuk rasa. Hanya, caranya yang mengganggu ketertiban umum bukanlah cermin dari mahasiswa yang lekat dengan pemikiran intelektual.

Tuntutannya pun tidak masuk akal ketika kita hidup dalam alam demokrasi, yaitu menurunkan pemerintahan yang sudah sah dipilih oleh rakyat. Rasa-rasanya, kebebasan berekspresi yang mereka tunjukkan sudah melampaui batas wajar, bahkan cenderung mengganggu.

Lebih penting lagi,sebenarnya dari sisi aparat penegak hukum. Inikah wajah dari aparat di negara kita, tidak berani bertindak tegas meski sebenarnya bisa mereka lakukan. Bukankah sebaiknya aparat negara tidak memberi ruang kepada mereka yang sudah jelas mengganggu kepentingan umum.Tidak boleh ada ruang dan toleransi terhadap aksi sekelompok orang yang merugikan kepentingan banyak pihak. Polisi harus berani menegakkan aturan demi kepentingan publik yang lebih luas.

Apa pun situasinya, harus ada tindakan tegas terhadap perilaku seperti ini.Bukankah ketidaktegasan penegakan hukum bisa memicu aksi-aksi lain yang sejenis. Dunia mengenal Teori Jendela Pecah yang ditemukan James Q Wilson dan George L Kelling.

Teori bermula dengan membayangkan sebuah gedung dengan jendela pecah. Saat jendela pecah tidak segera diperbaiki,muncul kecenderungan orang yang lewat akan memecah kaca lain yang masih utuh.Makin banyak jendela pecah, vandalis akan makin liar, mencoret dinding rumah dan bukan tidak mungkin merusaknya.

Kesimpulan dari Teori Jendela Pecah itu adalah, ketidakteraturan yang dibiarkan bisa mendorong aksi kriminal yang lebih besar. Malcolm Gladwell menggambarkan dengan sangat jelas dalam bukunya Tipping Point.Dia menggambarkan tingkat kriminalitas di New York pernah menyentuh angka sangat tinggi. Titik tumpunya adalah pelanggaran-pelanggaran kecil yang dibiarkan, hingga akhirnya memunculkan pelanggaran atau tindak kriminal dengan skala besar.

Berdasarkan Teori Jendela Pecah, gerakan untuk meminimalisasi kriminalitas dilakukan bersama pemerintah dan aparat kepolisian. Mereka bergerak bersama dan konsisten menegakkan peraturan yang ada. Kriminalitas di New York perlahan turun. Dalam konteks kita, terlalu mudah polisi membiarkan pelanggaran-pelanggaran kecil seperti pemblokadean jalan raya tanpa alasan jelas.Ketika pelanggaran masih kecil dan mudah diatasi, tetap dibiarkan. Tetapi ketika sudah makin banyak pelanggarnya, pasti makin sulit untuk ditertibkan.

Demikian halnya ketika menghadapi aksi demonstrasi. Ketika sudah lewat dari batas kewajaran, sudah sepatutnya ditindak tegas. Jangan sampai aparat kepolisian mengalami krisis wibawa,yang berujung tidak dapat dipercaya publik.