Daerah 1,3 Juta warga Jabar buta aksara

Kamis, 10 Nov 2011 - 00:00 WIB
Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ahmad Heryawan,menegaskan sekitar 1.031.841 warga di Jabar masih buta aksara. Jumlah terbanyak didominasi warga berasal dari dua daerah yakni Kabupaten Indramayu dan Kota Cirebon.

“Sekitar 1,3 juta orang atau setara 4 persen dari 37 juta warga Jabar berusia di atas 15 tahun masih buta aksara. Tapi insya Allah, secara bertahap pelatihan akan terus digulirkan sampai bisa melek huruf,” ungkap Ahmad Heryawan saat menghadiri pameran Hari Aksara Internasional tingkat Jabar di Lapangan Citepus, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Selasa (8/11/2011).
   
Diakui Heryawan, buta aksara bukanlah permasalahan sosial yang mudah diatasi. Pasalnya, warga yang belum melek huruf ini lebih didomionasi kalangan lanjut usia. Dengan demikian dibutuhkan penanganan yang lebih ekstra karena rendahnya daya tangkap lebih disebabkan faktor usia.

Sementara itu Kepala Seksi Pendidikan Masyarakat, Bidang Pendidikan Non Formal Informal (PNFI) Dinas Pendidikan (Disdik) Jabar, M Yusuf mengatakan, angka melek huruf di Jabar ini masih berada di atas angka rata-rata nasional dengan capaian diatas 95 persen dari total penduduk berusia di atas 15 tahun yang berkisar 37 juta orang.

Yusuf mengatakan, hasil pendataan lembaganya menunjukan jumlah warga yang masih mengalami buta aksara ini lebih banyak ditemukan di dua daerah yakni Kabupaten Indramayu sebanyak 150.530 jiwa (9,05 persen) dan Kota Cirebon sebanyak 31.806 (10,75 persen). “Ada beberapa faktor yang menyebabkan warga mengalami buta aksara, yakni letak geopgrafis dan rendahnya motivasi warga berusia lanjut untuk menekuni pembelajaran huruf,” beber Yusuf.

Di samping itu, faktor lainnya yang juga memicu angka buta aksara adalah  minimnya anggaran yang dialokasikan pemerintah. Salah satu contoh, tahun 2011 ini kuota warga yang menjadi target pengentasan buta aksara hanya sekitar 11 ribu orang. “Untuk Jabar, sudah ditargetkan jumlah pengentasan buta aksara menyentuh 90 ribu orang. Jumlah ini akan bertambah dengan adanya program dari pemerintah pusat. Diharapkan pada 2012 bisa menyentuh 101.000 orang,” ungkapnya.

Sementara itu terkait dengan pengentasan buta aksara, Bupati Sukabumi Sukmawijaya meraih penghargaan Anugerah Aksara dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Prestasi tersebut diperoleh menyusul minimnya mjumlah warga buta aksara yang hanya berkisar 4.149 jiwa.

“Jauh hari sebelumnya pemerintah daerah sudah menargetkan di tahun 2011 ini, warga Sukabumi terbebas dari buta aksara,” seloroh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi Zaenal Mutaqien.

Secara nasional angka buta huruf di Indonesia disebut relatif kecil, yakni lima persen. Jumlah itu didominasi oleh usia lanjut.

"Meskipun hanya lima persen, tetapi jumlah absolut di lapangan sangat banyak dan sangat menantang. Ditambah lagi, 60-70 persen mereka berusia di atas 50 tahun," kata Dirjen Pendidikan Menengah (Dikmen) Kemendiknas Hamid Muhammaddi, selepas membuka pameran dalam rangka Hari Aksara Internasional ke 46, Gedung D Kemendikbud, Jakarta 20 Oktober 2011.

Untuk itu, dia melanjutkan, sesuai dengan tema International Literacy Day yakni Literacy for Peace, maka fokus yang diambil yakni tidak hanya mengajarkan menulis dan berhitung saja. "Tetapi juga terintegrasi dengan mengajarkan kepada untuk hidup berdampingan dengan," ujarnya.

Meskipun program pengentasan kebutaaksaraan sudah sejak tahun lalu, langkah kongkret pun tetap dilakukan, yakni berupa  modul-modul yang diajarkan kepada masyarakat. "Program dan modul tersebut dilakukan secara merits di seluruh Indonesia, belum Ada daerah khusus yang difokuskan secara istimewa," ujarnya.